Skip to content

Project

Make the world smaller! Go Travels! Build Cultural Exchange !

Di banyak negara yang hampir tidak pernah dijajah, traveling bukan isu
baru, tapi udah darah daging. Tanya orang inggris, kenapa negara
sekecil itu kok bisa jadi tuan rumah di dunia. Karena mereka traveling,
tau lebih banyak, yang bikin mereka lebih tau bagaimana cara invasi
(jajah) banyak negara, hehehe

Di Indonesia, kita hidup di negara subur makmur, bisa jadi itu bikin kita nggak terlalu kepikiran lihat dunia lain selain dunia kita. Kalau itu yang jadi alasan, oh,well, itu juga yang bikin kita di jajah lebih dari satu negara sebelumnya. We dint know what freedom is, we dint know lots of thing; weapons, agricultures, trades, gold, religions, etc etc…we dint know.Simple: karena nggak tau!

How to know, supaya tau? Belajar! Opung (Kakek) juga papa saya suka bilang, “belajar yang rajin biar pintar trus bisa punya ilmu untuk pergi jauh.” Aku bingung, kok capek-capek sekolah disuruh pergi jauh?

Because there, the whole world society is the best education

Akhirnya kita kenal apa yang namanya traveling, backpaking, jalan-jalan, berpetualang, terserah apa nyebutnya.

kebanyakan untuk orang Indonesia, traveling untuk roaming the word seperti mimpi. Padahal ternyata ada juga orang Indonesia bisa keliling bumi to make the world smaller, meski nggak banyak.

Tapi, tetap optimis, kita bisa punya lebih banyak lagi travelers dari Indonesia. Ayo traveling! Lets make the world smaller!

Ah ya, traveling menjelajah dunia, nggak semua orang paham bagaimana caranya…

Di Indonesia sendiri ada dua tipe calon traveler Indonesia yang PASTI BISA menjelajah negara-negara lain; mereka yang punya:

Dana dan personal netowrk

Dana

Saya nggak perlu kasih tau kalau traveling ke belahan dunia lain itu sangat mahal.

Hal lainnya; kita, para calon traveler dari Indonesia masih di jajah, ditekan oleh negara kita sendiri. Buat kita yang pengen traveling untuk belajar tentang dunia, perlu di ingat, Indonesia adalah satu dari sedikit negara yang DIPAJAK pemerintahnya sendiri jika mau pergi ke luar negeri. Namanya Fiskal

Kamu sebel nggak sih? Nabung buat duit supaya bisa beli tiket aja susah, kok manusia indonesia mau belajar tentang dunia supaya nggak terjajah secara lahir dan bathin, malah di pajak!

Bantu para traveler Indonesia lain untuk bergabung hapus Fiskal, disini:
http://www.petitiononline.com/indo2005/petition.html
Personal network.
Apa personal network? Kenapa personal network bisa bikin kamu traveling. Uwaaahhh gampang. Kamu liat aja temen-temen kamu yang bisa traveling karena dua alasan terbesar orang indonesia bisa berada di belahan dunia lain selain di negara kita…
Institusi yand mengirim kamu ke luar negeri.

Dari Indonesia yang paling banyak TKW, trus tour guides/leader, trus business man, trus wartawan, trus pelajar trus sukarelawan, trus.. banyak deh! Ini karena personal kamu yang mampu untuk pergi; kamu pintar, kamu jenius, kamu rajin (tkw) kamu mampu. Atau pemimpin (orang tua/agensi) kamu percaya kamu bisa kerja/belajar ke luar negeri.
Personal, bener-bener personal^_^
Orang tuanya bule, anaknya yang warga negara Indonesia bisa pergi ke negara orang tuanya. Pacarnya bule, trus diajak ke luar negeri. Lalu punya temen yang punya cukup dana, kita diajak jalan-jalan keluar negeri. Paman atau tante kawin di luar negeri, kita di undang ke luar negeri. Banyak juga yang begini.
Pertama; saya mau tanya, kira-kira anda dalam kategori mana?
Jika salah satunya anda pegang, sudah saatnya anda berangkat. Tidak perlu lagi melanjutkan membaca halaman ini. Apalagi kalau kamu kamu
merasa nggak penting-penting banget sama orang-orang Indonesia lain
yang belum pernah traveling karena mereka nggak seberuntung kamu.
Kamu salah alamat untuk membaca halaman website ini. Silahkan log out ^_^
Karena pertanyaan kedua saya; kategori mana yang jumlahnya lebih banyak di Indonesia?
Yep, betul.. dibagian…

Nggak punya dana dan personal network!

Nggak punya dana

Ini solusi yang sulit, ini dari diri kamu sendiri. Nabung.

Jangan bingung
bagaimana caranya merencanakan perjalanan ke luar dari dunia mu di
Indonesia. Coba baca buku Marina K Silvia, dia punya pengalaman menarik
bagaimana nyicil uang sedikit demi sedikit agar bisa traveling meskipun
dia masih jadi pelajar (waktu itu)

Klik link bukunya:

Back Europe Pack – Keliling Eropa 6 Bulan Hanya 1000 Dollar!
Nggak punya personal Network
Dari pengalamanku yang paling susah untuk bisa berencana traveling ke luar negeri itu membangun
personal network.Setelah dana terkumpul, aku tetap nggak bisa
berpetualang ke luar negeri, karena: dana yang aku miliki di bank nggak cukup buat
menjamin diriku sendiri sebagai bukti ijin masuk negara lain atau yang biasa disebut:VISA!

Kalau kamu bukan anak blasteran Indo atau nggak mampu sekolah ke luar negeri. Kamu nggak punya skill jadi TKW atau kantor kamu nggak punya cabang di luar negeri yang bisa bikin kamu dikirim kesana… trus??

Nope! Aku nggak bakalan suruh kamu cari pacar bule dulu! Kalau selera kamu orang Majalengka, masak aku sok kasih tau gimana cara dapetin orang afrika, gara-gara kamu mau traveling ke sana.Kalau kata anak ku yang 7 tahun dia pasti bilang: “cape deeeee”

Trus?

Bangun personal network mu!
Di bagian ini aku bisa bicara banyak. .
Ya..Aku sangat-sangat mengandalkan temen sepenanggungan sependeritaan, yang mengerti tentang susahnya pemegang passport Indonesia untuk traveling ke luar negeri bisa dapat visa. Aku perlu mereka yang tahu dan kenal aku sampai akhirnya mau mengundang aku, berani menunjukkan kepada birokrasi imigrasi negara mereka dengan cara menjamin aku bahwa aku mampu untuk berpetualang… sampai akhirnya mereka mendapatkan visa untuk aku…
Bagaimana teman-teman yang berjiwa besar dan berpikiran murni ini bisa kenal, dekat dan akhirnya memberikan kepercayaan untukku? Sebagai wanita, aku perlu sahabat yang paham benar aku mau datang untuk menjelajah, bukan malah dijajah sesampainya disana. Tanpa pamrih, tanpa melihat sesuatu yang bisa mereka manfaatkan dari aku. Aku bergabung dengan:

Hospitality-Exchange Network = Jaringan Silahturahmi.

Hospitality Exchange seperti namanya adalah Jaringan Silahturahmi,
Indonesia terkenal dengan budaya ini, kita dilahirkan dengan darah
silahturahmi, dari suku manapun anda berasal. Saling kunjung itu sudah
biasa, saling mampir itu budaya, saling silahturahmi.

Hanya saja
dibudaya kita, biasanya saling silahturahmi itu dengan sesama saudara
dan setali sosial (teman, sahabat, de el el) bukan dengan orang asing.
Disini kuncinya: membuka pintu rumah anda untuk orang asing yang
berkunjung ke Indonesia;melalui jaringan silahturahmi.

Berikut ini
beberapa jaringan silahturahmi internasional yang cukup mapan:

Ada HospitalityClub, diikuti oleh Couchsurfing lalu BeWelcome, namun yang (paling) di akui oleh PBB adalah SERVAS.

Bagaimana memulai dengan jaringan silahturahmi? Buka hati lalu buka pintu..
Buka Hati

Kalau kamu baca buku Marina diatas, kamu lihat bagaimana dia membiarkan naluri ke muslimannya berterbangan secara liberal degan manis dalam kondisi dan situasi yang traveling sangat kristen di dalam perjalanannya. Malah dari mereka (para pastur) yang dia temui dalam perjalanannya, Marina kenal lebih dekat siapa Allah Maha Besar dalam hati Marina.

Itu cuma satu contoh yang paling-paling krusial untuk membuka personal networkmu. Traveling perlu buka hati, buka pikiran seluas-luasnya. Membuka personal network butuh lebih banyak unsur ini. Butuh mental, butuh penerimaan, butuh rasa penasaran yang ujungnya rasa penerimaan dan kerja sama. Susah, susah sekali, terutama bicara soal agama. Marina sangat sukses membawa dirinya dengan halus dan tetap berkepribadian.

Kenapa harus buka hati dan pikiran yang seluas-luasnya? Karena kamu mulai menjajaki unsur paling mujarab untuk membuka personal networkmu yaitu…
Buka pintu
Membuka pintu untuk orang asing yang tidak kamu kenal kedengarannya aneh. Itu yang pertama kali sering saya dapatkan dari komentar anggota Jaringan Silahturahmi di Indonesia.
Siapa mereka para tamu
Dan saya sendiri kurang setuju kalau Jaringan Silahturahmi kebayakan hanya traveler-traveler yang memanfaatkan tempat tinggal gratis. Dilain pihak, dari pengalaman menerima tamu di tempat anda, anda bisa melihat, memang ada yang hanya datang untuk memanfaatkan, tapi banyak lagi datang dengan jiwa yang sama. Mungkin karena sudah terlalu banyak saya terima traveler di rumah, begitu ada orang datang, saya salam, saya peluk dan bicara lima menit, biasaya saya sudah dapat menebak-nebak seperti apa mereka. Tapi lagi, saya tahu hukum pertama menerima traveler: Buka Hati. Jadi, saran saya, bagi anda yang ingin memulai dan sudah pakar, mari saling mengingati.Dari banyak tamu traveler yang datang ke tempat saya (mungkin ratusan) saya bisa membedakan mereka.
Travelers:
Ini tamu yang paling saya suka. Biarpun bau, nggak bawa apa-apa, super ngirit banget, nggak mau diajak keluar luar buat nite out, pendiem, atau karakter lainnya. mereka ini buat saya traveler sejati. Gampang aja;
Attention
Mereka meluangkan waktu baca profile mu yang kau taruh di Jaringan Silahturahmi. Kalaupun mereka buru-buru, cuma pake ‘hi you’ mereka tetap update perjalanan mereka, memastikan kamu bahwa mereka tahu kamu yang ingin mereka temui. Secara harafiah, kamu bisa baca email yang dikirim ke banyak orang dengan sebaliknya.
Holiday freeloader
Tapi saya mau
bilang, dari mereka-mereka yang datang, tinggal, hidup bersama saya
selama perjalanan mereka di Indonesia, mereka yang sangat percaya
kepada saya, bahkan lebih percaya pada keyakinan saya daripada
teman-teman saya sendiri di Indonesia.
Sementara,
di tempat saya, banyak prejudice saat saya bisa traveling solo ke
eropa, datangnya justru dari teman di Indonesia sendiri. “pasti karena
‘laki’nya orang bule”, “pasti udah pernah ‘tidur’ sama yang kasih visa
dengan dia itu, pasti, pasti..”
Tapi kata orang, kalau orang sirik berarti nggak mampu ya? Dan saya paham sekali itu, setuju sekali. ^_^
Itu
kenapa juga buat saya, penting mengeliminasi orang-orang yang nggak
mampu ini, supaya berkurang orang-orang sirik yang menjatuhkan mental
traveler yang jujur, dan mampu seperti saya dan/atau Marina, terutama
Asian Solo Women Traveler (Indonesia khususnya)
Banyak yang kasih pertanyaan yang jawabannya sebenernya simple tapi waktu diajukan lucu.
“mbak, tamu saya hari ini datang, sofa saya nggak besar, kan orang bule besar-besar, cukup nggak ya?”
“mbak, kalau orang bule itu mau nggak dikasih makan biasa ya?”
Dan banyak lagi.
Untuk yang baru mulai, dari pengalaman saya, ikhlas sangat penting. Cara jadi tuan rumah yang baik itu sama dengan membayangkan bagaimana jika anda jadi tamu. Lalu, cara jadi tamu yang baik itu, semudah bagaimana anda menempatkan diri anda sebagai tuan rumah. Works the other way around.,